ID | EN

Tentang Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL) Musi Banyuasin

Latar Belakang Pembentukan PUKL

Sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Kabupaten Musi Banyuasin merancang konsep pembangunan hijau sejak Tahun 2015, yang menitikberatkan pada pengelolaan sumber daya alam dengan optimal, meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dan memperbaiki tata kelola pemerintahan dan birokrasi sehingga akuntabel. Salah satu sektor penting untuk implementasi konsep pembangunan hijau tersebut adalah komoditas, termasuk kelapa sawit, karet, gambir dan lainnya. Pada tahun 2017, upaya tersebut berhasil mengantarkan Kabupaten Musi Banyuasin sebagai Kabupaten pertama di Indonesia yang melakukan penanaman kembali sawit rakyat untuk peningkatan produktivitas sawit. Meningkatnya produktivitas berarti berkurangnya kebutuhan pembukaan lahan termasuk hutan.

Salah satu pembelajaran dari keberhasilan tersebut adalah pentingnya gotong royong multipihak untuk mendorong pengembangan komoditas lestari. Karenanya pada tahun 2019, Kabupaten Musi Banyuasin bekerjasama dengan mitra pembangunan dan sektor swasta membentuk Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL) sebagai wadah gotong royong multipihak  melalui Peraturan Bupati Nomor 92 Tahun 2019 Tentang Pembentukan Pusat Unggulan Komoditi Lestari di Kabupaten Musi Banyuasin. 

Dimana PUKL Beroperasi

Sesuai dengan rencana pembangunan kabupaten, Kabupaten Musi Banyuasin juga mendorong mekanisme MASKoT untuk membantu PUKL menentukan prioritas operasinya. Peraturan Bupati Nomor 93 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sumber Areal Terverifikasi Usaha Perkebunan dan Karet di Wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Selanjutnya disebut “MASKoT”), memberikan dasar bagi para pihak untuk bekerjasama dalam perencanaan, pengarustamaan, monitoring dan pelaporan, promosi serta komunikasi terkait pengembangan komoditas lestari sesuai semangat pembangunan hijau Kabupaten Musi Banyuasin.

Tugas & Fungsi PUKL

Pusat data dan informasi​

Wadah gotong royong para pihak untuk memastikan bahwa data dan informasi yang dibutuhkan untuk pengembangan komoditas lestari Musi Banyuasin, termasuk laporan kemajuan berkala, dapat diakses oleh berbagai para pemangku kepentingan.​

Investasi Lestari​

Wadah gotong royong para pihak untuk ‘jemput bola’ investasi ramah lingkungan dan ramah sosial sesuai yang dibutuhkan untuk pengembangan komoditas lestari Musi Banyuasin;

Pengembangan Kapasitas & Inovasi

Wadah gotong royong para pihak untuk meningkatkan akses peningkatan kapasitas dan inovasi bagi pemangku kepentingan kunci dalam rantai pasok komoditas lestari termasuk petani/pekebun, usaha mikro kecil menengah (UMKM), tenaga profesional, aparatur sipil negara & dinas terkait, masyarakat hukum adat dan lainnya.

Daftar Komoditi

Karet

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber ini dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untuk permen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

Sawit

Elaeis (dari bahasa Yunani, artinya “minyak”) adalah genus dari Arecaceae yang memiliki dua spesies, yang disebut sebagai kelapa sawit. Tumbuhan ini digunakan untuk usaha pertanian komersial dalam produksi minyak sawit. Kelapa sawit Afrika Elaeis guineensis (nama spesies guineensis mengacu pada negara asalnya) adalah sumber utama minyak kelapa sawit. Kelapa sawit Amerika, Elaeis oleifera (dari bahasa Latin oleifer, artinya “penghasil minyak”)[1] adalah tanaman asli Amerika Selatan dan Tengah tropis,[2] dan digunakan secara lokal untuk produksi minyak.

Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Kelapa sawit ini memiliki peranan yang penting dalam industri minyak yaitu dapat menggantikan kelapa sebagai sumber bahan bakunya.

Gambir

Gambir (Uncaria) adalah genus tumbuhan yang termasuk suku rubiaceae. Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidanIndia mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih.

Gambir dihasilkan pula dari tumbuhan U. acida.

Peluang Kolaborasi Pusat Unggulan Komoditi Lestari

PUKL kini sedang menyiapkan program strategis dan rencana aksi sebagai acuan para pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program pengembangan komoditi unggulan kabupaten dan merancang Kesepakatan Bersama (Compact Agreement) untuk pengelolaan komoditi lestari di Musi Banyuasin sebagai target kinerja PUKL 2021-2025.